Community

Kisah Wan Ahmad Jawi–Ayahanda Prof Syarif Ibrahim Alqadrie–Ilmuan–Korban Jepang

Kisah Wan Ahmad Jawi–Ayahanda Prof Syarif Ibrahim Alqadrie–Ilmuan–Korban Jepang
Gapura Istana Kesultanan Qadriyah ke arah Mesjid Jami' Sultan Abdurrahman

Sang bocah lelaki itu yang bernama Syarif Hamid Alqadrie segera menggeser posisinya di bawah kolong bangunan tak jauh dari tangga kayu dan posisi ibunya yang terkulai di hamparan tanah.
Dua belas tahun ke atas, para terpelajar, tokoh agama, saudagar, kerabat kesultanan, tokoh masyarakat dan bangsawan habis dibantai untuk suatu rencana pembangunan pangkalan angkatan laut Jepang. Nasib daerah terjajah mengalami nasib yang sama seperti di Serawak dan Labuan, Malaysia juga Manchuria.
Semenjak saat itu, sang ibu harus berjuang membesarkan kelima anaknya dan janin yang ada di dalam rahimnya.

Apakah mereka para keluarga korban berteriak dan membalas rasa kehilangan kepada bangsa yang melanggar hak hak kemanusiaannya dan bangsa lain yang datang dan mengulurkan tangan untuk bersama membangun kembali kehancuran akibat keserakahan manusia ?
Apakah kami pernah membalas rasa sakit ini kepada saudara saudara kami yang lain?
Apakah kami pernah melanjutkan dendam dan kemarahan kami kepada mereka yang mengaku saudara tetapi menjadi jalan bagi penjajahan Jepang terjadi di Nusantara ini?
Apakah kami pernah berkeluh kesah dengan pemerintah pusat meskipun stigma negatif masih saja disematkan kepada daerah dan diri kami ?