Waktu terus bergulir, terik sengatan matahari di tengah hari mulai bergeser ke Barat, namun Wan Achmad Jawi tiada pula kembali untuk menyantap sajian makan siangnya. Sang isteri mulai gelisah. Sajian itu tidak jua disentuhnya, meskipun sang suami telah berpesan untuk mendahuluinya apabila tengah hari telah berlalu. Ibu Prof Syarif Ibrahim Alqadrie tetap menanti, sebagaimana petuah orangtua dahulu kalah untuk menemani suami makan bersama, pantang isteri mendahuluinya.
Adzan Ashar pun berkomandang sayup sayup dari mesjid tua tak jauh dari gang rumah mereka, tepatnya di depan tembok lintang dua atau jalan Merdeka saat ini.
Suara adzan pun berteriak nyaring bersahutan di segala penjuru kediamannya yang berasal dari beberapa langgar di gang Nurden gang Klenteng, bahkan langgar di seberang parit lintang dan parit bujor.
Namun sang seniman itu tak juga menampakkan bayangan tubuhnya yang tinggi, tegap dan rupawan. Sajian itu tak jua disentuh oleh sang isteri.
