Community

Kisah Wan Ahmad Jawi–Ayahanda Prof Syarif Ibrahim Alqadrie–Ilmuan–Korban Jepang

Kisah Wan Ahmad Jawi–Ayahanda Prof Syarif Ibrahim Alqadrie–Ilmuan–Korban Jepang
Gapura Istana Kesultanan Qadriyah ke arah Mesjid Jami' Sultan Abdurrahman

Saat tahun 1990-an awal, ketika team Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) cabang Kalimantan Barat bersama Prof Syarif Ibrahim Alqadrie membuat rumusan arsitektur khas Kalbar yang akan digunakan sebagai acuan dan peraturan hukum untuk membangun bangunan berarsitektur dan bercirikan identitas Kalbar di provinsi ini.
Mereka masih menemukan bukti bangunan dan para narasumber yang menjelaskan bahwa Syarif Achmad Alqadrie berhasil menyelesaikan kegiatan merenovasi istana Muliekerte sebelum beliau kembali ke kota kelahirannya, Pontianak.
Karena pada saat itu, beliau memperoleh informasi dari Pontianak bahwa kelima anaknya yang masih kecil dan isterinya yang sedang mengandung bakal janin yang diberi nama Syarif Ibrahim Alqadrie akan dibunuh Jepang atau sedang ditawan Jepang apabila Syarif Achmad (masyarakat mengenalnya dengan sebutan Wan Achmad Jawi untuk mengidentifikasikan dirinya dengan orang yang bernama sama) tidak segera menyerahkan diri.

Bagi beliau bisa saja saat itu, beliau menyelamatkan diri pergi ke perhuluan atau pedalaman negeri Ketapang, melainkan Syarif Achmad berpendapat itu adalah tindakan pengecut seorang lelaki yang mengorbankan anak dan isterinya.
Akhirnya, setelah beliau menyelesaikan pengecatan istana Muliekerte yang saat team IAI Kalbar dan anak kandungnya, Syarif Ibrahim Alqadrie, melakukan survei, cat istana itu masih seperti warna yang dihasilkan oleh tangan sang ahli sketsa, Syarif Achmad. Beliau pun memutuskan menghadapi Jepang di negeri Pontianak.