Malam, seminggu setelah Syarif Achmad pulang kembali ke kota Pontianak, Beliau yang tak pernah lepas dari kopiahnya atau songkoknya, mendapat pertanda di saat terlelap di istirahat malamnya.
Kopiah itu terbang melayang layang berputar dihadapannya, ia berteriak-teriak saat pertanda itu datang dan sang isteri membangunkannya untuk memintanya istifar dan sholat malam.
Beliau pun menceritakan pertanda itu kepada sang isteri dan mengatakan tak lama lagi Jepang akan menangkapnya.
Keesokan paginya, beliau meminta isterinya membuatkan sayur kesukaannya dan berpesan akan menyantapnya di siang hari itu bersama sama keluarga kecil yang dicintainya.
Kepala keluarga itu berpesan, apabila waktu makan siang ia belum juga pulang, sang isteri diminta untuk tidak menunggunya dan makan duluan.
Seperti biasanya, pagi itu beliau pergi ke kantor nya yang saat itu berlokasi di gedung lama SMN1 Pontianak. Kantor itu bertingkat dua dan terbuat dari kayu Belian dan beratap sirap. Bangunan berstruktur kayu besi murni yang gagah dan kokoh. Itu juga merupakan salah satu hasil goresan sketsa tangannya yang sangat halus penuh cinta seperti kelincahan jari-jemarinya yang piawai menggesekkan tali senar biola.
