Opini

Asam Pedas dan Trend Glokal

Asam Pedas dan Trend Glokal

Ketiga istilah ini biasanya dibedakan berdasarkan usia, antik biasa untuk benda yang berusia di atas 100 tahun. Vintage biasanya gaya (style) yang berumur 100 tahun. Sedangkan retro biasanya merujuk ke gaya yang berkembang antara tahun 50 hingga 70-an. Kategori ini biasa dipakai oleh para penggiat vintage, barang-barang antik dan emak-emak millenial yang senang mengutak-atik design interior rumah.

Kembali ke fokus tulisan ini, bahwa era posmo atau postmodern (pasca modern) merupakan era tumbuh berkembang heterogenitas nilai dan tradisi. Perkembangan budaya yang tidak selalu linear, akan tetapi juga membentuk spiral kebudayaan. Memungkinkan kembali terjadi pengulangan sesuatu yang lama kembali menjadi aktual. Seperti terlihat pada trend vintage dan retro.

Artinya, kecenderungan kita meniru style populer, dengan mengabaikan kekhasan kita sendiri adalah bentuk kegamangan budaya (atau disorientasi budaya). Seperti pameo yang diceritakan Mohammed Shahrour (Pemikir dan penulis berkebangsaan Suriah) tentang burung gagak yang iri dengan keindahan burung Bulbul. Kita tahu gagak warnanya hitam, sedangkan Bulbul bulunya indah berwarna warni dan berjambul. Karena didorong hasrat iri dan dengki, dicatlah bulu-bulunya dengan beraneka warna. Namun apa lacur, warnanya jadi tidak karuan. Akhirnya jadi burung yang bukan-bukan, dibilang Bulbul bukan, mau di bilang gagak juga bukan. Jadilah burung yang “bukan-bukan”, tercerabut dari identitas yang ada.