Agar kita tidak menjadi manusia “bukan-bukan”, perlu kita menegaskan kembali identitas kebudayaan kita, yaitu menjadi warga Glocal. Menjadi bagian dari warga masyarakat dunia global (globalisasi), namun dengan tetap mempertahankan kekhasan lokal kita. Baik dari segi agama, falsafah hidup, nilai-nilai budaya dan gaya hidup.
Kuliner asam pedas merupakan salah satu contoh kekhasan masyarakat Kalbar, disamping banyak jenis lainnya. Demikian juga kesenian lokal, kita punya tradisi berpantun dan bersya’ir. Ada musik sape’ yang indah instrumentalisnya. Ada bedande dan sya’ir gulung yang mendayu-dayu. Ada tundang (pantun dan gendang) yang kocak. Kemudian ada banyak upacara adat yang berhubungan dengan siklus kehidupan seperti, 7 bulan, naik ayun, tumbang apam, menugal padi dan panenan padi, robo’-robo’, tatung hingga upacara perkawinan. Bahkan humor “merepek” atau “beleter”, yaitu ngomel dalam bahasa Melayu Pontianak yang khas dan lucu. Ini jenis humor yang sekarang sedang populer di kalangan millenial. Ada akun sosmed Mak Repek, Pontigile, dan nama-nama humoris millenial seperti Sukep, Ali Akbar, Hamidi Kelana (sekedar menyebut beberape contoh) yang sangat menghibur. Kemudian setiap daerah memiliki berbagai jenis kuliner khas seperti kerupuk basah, bubur pedas, bingka berendam, pacri nanas, tempoyak, kerupat colet dan lain sebagainya. Kesemuanya adalah rupa dari berbagai kekhasan yang kita miliki.
