Kekhasan tersebut harus diletakkan di “etalase” terdepan dari wajah Kota ini. Jangan sampai ia dimarginalisasi oleh gaya hidup dari budaya populer yang praktis pragmatis. Penulis kalau ke Ibu Kota kadang sering merasa prihatin, melihat ondel-ondel yang terpinggirkan oleh gemerlap Kota. Ondel-ondel digunakan oleh anak-anak untuk mengamen di tempat-tempat makan kaki lima. Penulis melihat realitas ini, jangan sampai hadrah, atau kesenian lain yang kita miliki mengalami peminggiran yang sama. Ini sungguh ironi, dan patut menjadi perhatian kita semua.
Hal ini terjadi karena ada “pembiaran budaya”, sehingga budaya lokal tergulung budaya populer. Siapa yang lengah, membiarkan ini terjadi, bisa kita sebagai masyarakat budaya, bisa juga pemerintah. Oleh karenanya keprihatinan ini harus menjadi perhatian kita semua.
