Opini

Fena 2020 ‘Road to’ Pahlawan Nasional

Fena 2020 ‘Road to’ Pahlawan Nasional
Foto Panpel Fena khaTULIStiwa di Konser Virtual Arwana 25th di RuMel oleh Abyan Odhy, Teraju News Network

Masalah kita adalah, ada satu tokoh pendiri bangsa, seiring semasa dengan proklamator Soekarno dan Hatta serta ‘founding fathers’ lainnya, namun tidak dikenal massa–masyarakat Indonesia. Beliau adalah Sultan Hamid II Alkadrie, raja ketujuh Kesultanan Qadriyah, menteri negara kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS) sang arsitek pengakuan kedaulatan proklamasi 17 Agustus 1945 dari penjajah Belanda hingga pencipta lambang negara elang rajawali Garuda Pancasila seperti yang kita gunakan hingga hari ini–namun pendar dari eksistensi sejarah Bangsa Indonesia. Boro-boro hendak ditetapkan sebagai pahlawan nasional karena peranannya yang besar bagi bangsa dan negara. Jadi harus kita komunikasikan terus menerus tanpa kenal lelah dan bosan. Setiap saat dan setiap waktu harus diperbincangkan. Harus dijelaskan.Harus diceritakan. Harus dibukukan. Harus dipentas teaterkan. Harus difilmkan. Harus dipantunkan.Harus dilukiskan. Harus dibuat nama jalan di mana-mana seantero Nusantara. Harus dan harus…Jika kita mau, karena kita bangga atas peranannya dalam sejarah lokal, nasional dan internasional. Sebab mengapa harus begitu? Sebab Tuhan pun tidak akan mengubah nasib suatu kaum, jika kaum itu sendiri tidak mau merubahnya. Intinya ya harus ada kemauan itu.