Opini

Fena 2020 ‘Road to’ Pahlawan Nasional

Fena 2020 ‘Road to’ Pahlawan Nasional
Foto Panpel Fena khaTULIStiwa di Konser Virtual Arwana 25th di RuMel oleh Abyan Odhy, Teraju News Network

Sejak ditemukannya disposisi Soekarno yang tidak pernah termuat mata pelajaran sejarah di seluruh Indonesia kepada para generasi muda, maka Tabloid Mahasiswa Mimbar Universitas Tanjungpura memuat temuannya itu sebagai kepala berita. Headline. Dari headline itulah lahir penelitian tesis sejarah hukum lambang negara yang ditulis pakar hukum tata negara Turiman Faturahman Nur. Kemudian disusul dari sisi pidana makar yang tidak terbukti (bahkan dinyatakan bebas dari segala tuduhan pidana pemberontakan APRA yang dialgojoi Westerling) oleh Anshari Dimyati. Keduanya riset tesis di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Masing-masing pada tahun 1999 dan 2012.

Sejak saat itulah keberanian menuliskan Sultan Hamid mengemuka. Sepanjang kurun 1994-2012 lahir banyak narasi tentang Sultan Hamid yang digawangi Yayasan Sultan Hamid dan eksposurnya lewat media massa, terutama koran, majalah, tabloid, dan kini merambah media sosial tanpa batas.

Jalan menuju pengakuan negara sebagai pahlawan nasional pun terbuka. Plus minus Sultan Hamid bisa dicek dengan penelitian ilmiah. “Dari sisi penelitian ilmiah kita sudah selesai. Kini perjuangannya di jalur politik,” kata Gubernur Kalimantan Barat, H Sutarmidji, SH,M.Hum dalam berbagai kesempatan. Sebab nama jalan sudah dilakukan untuk Sultan Hamid, buku-buku telah terbit, arena diskusi ilmiah terus menggema, bahkan masuk ke jagad sastra dan budaya yang terus menggelinding bak bola salju di seluruh Indonesia.