Opini

“Kalut-Ribut” Tapal Batas Arboretum Fakultas Kehutanan vs “Tembok Berlin” Fakultas Pertanian

“Kalut-Ribut” Tapal Batas Arboretum Fakultas Kehutanan vs “Tembok Berlin” Fakultas Pertanian

Banyak kawan SMA saya memilih Kehutanan.
Kami sejak dulu hingga kini akrab berteman. Sebagian kawan satu angkatan sukses di pemerintahan, politik, hingga entrepreneur. Beberapa menjadi Kepala Dinas. Termasuk Dekan kedua belah pihak yang sedang “adu data dan fakta serta analisa” adalah senior kala rambut saya masih cepak dalam perpeloncoan. 1992 mahasiswa Agronomi dan Kehutanan menuntut ilmu di atap akademis yang sama. Praktikum di laboratorium yang sama. Gelar akademis sama-sama insinyur lalu berubah menjadi Sarjana Pertanian (SP) dan Sarjana Kehutanan (S.Hut).

Saat saya masuk mereguk ilmu, Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) kami dosennya sama. Ruang belajar pun sama. Dekan saat itu adalah Prof Ir Aminardi. Adapun Ketua Jurusan Kehutanan yang kelak menjadi Dekan Fakultas Kehutanan pertama adalah Prof Dr Herujono Hadisuparto (Alm). Sebagian dosen kami adalah alumni kedua jurusan tersebut sebelum berpisah.

Era 1990-an adalah era aktivis kampus yang keren. Oleh karena keren, maka perebutan kursi senat pun panas. Dari sini friksi politik Kehutanan dan Agronomi Cq Pertanian bermula. Hawanya terasa sampai sekarang. Kalau dulu perebutannya di kursi senat, kini berekor ke jabatan rektor.