Di balik catatan sejarah di atas, sejarah terus bergulir. Desas-desus di medsos berseliweran dan kadang buat telinga menjadi panas. Jika tidak ekstra hati-hati, kita pun ikut berkomentar pedas tanpa data yang akurat.
Adalah lebih baik kita kenal gajah dengan mata terbuka dan sempurna. Tidak seperti orang buta bersikukuh bahwa gajah itu seperti pohon kelapa karena dia pegang kakinya. Atau si buta lain bilang gajah tipis lantaran dipegang kupingnya. Atau justru gajah tajam karena disentuh adalah taringnya. Dengan membuka mata dan telinga serta mau turun ke lapangan, kita bisa mendapatkan realitas objektif yang cenderung bulat dan utuh. Semoga kebenaran menjadi nyata.

Sebagai “orang media” yang berinteraksi dengan semua pejabat di lingkungan Untan, Kota Pontianak dan Provinsi Kalbar saya melihat masalah batas Arboretum dan Fakultas Pertanian adalah masalah tapal batas biasa seperti dua pemilik kebun dengan selisih sertifikat yang dikeluarkan BPN. Ada mekanisme balik batas yang bisa ditempuh bersama-sama. Jalan keluarnya bisa damai di win-win solution tanpa mengurangi hak praktikum mahasiswa atau penelitian dosen. Juga RTH. Ruang Terbuka Hijau yang tertuang di dalam Perda. Tak ada kejanggalan secara ilmiah.
