Opini

Medsos vs Ideologi Radikal Teroris di Kalbar: Studi Kasus Nurul Hadi

Medsos vs Ideologi Radikal Teroris di Kalbar: Studi Kasus Nurul Hadi
Kegiatan diseminasi media dalam liputan terorisme bersama BNPT-FKPT Kalbar di Hotel Kapuas Palace tahun 2016. Pembicara utama saat itu adalah Ansyaad Mbai mantan Ketua BNPT dan anggota Dewan Pers Jimmy Silalahi.

Sejak Nurul Hadi, warga Kalbar ditangkap Densus 88 pada hari Senin, 27/11/17 sekitar pukul 11.00, titik terang pemeriksaan disampaikan Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Setyo Wasisto dan dimuat portal berita nasional.
Ada beberapa poin penting telah berhasil dikuak. Pertama, bahwa Nurul Hadi yang lahir di Sekuduk, Kecamatan Sejangkung, Kabupaten Sambas 36 tahun lalu memang berniat ke Marawi. Dia ingin berjihad. Marawi sendiri adalah daerah di Filipina Selatan yang bergolak karena berafiliasi dengan Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS).

Kedua, soal dugaan Nurul Hadi atau Nurhadi terkait jaringan ISIS, masih didalami Densus 88. Mabes Polri belum bisa memastikan apakah yang bersangkutan hanya anggota atau pendukung ISIS. Untuk itu, Nurul Hadi diboyong Densus 88 ke Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok untuk pemeriksaan lanjutan. Gejet yang dimiliki Nurul Hadi disita. Rekam medsos dan pembicaraannya dijadikan bahan kajian. Tujuh hari masa pemeriksaan buat Nurul Hadi sejak dia ditangkap untuk sebuah kesimpulan status dirinya: bebas atau menjadi tersangka.

Ketiga, Mabes Polri mengungkapkan Nurul Hadi terpengaruh paham radikal lewat media sosial. Di mana di dunia maya dia bertemu dengan warga negara Malaysia dan Filipina. Pertemuan itu membuatnya mengukuhkan niat ke Marawi, Filipina Selatan, untuk bergabung dengan ISIS.