Opini

Medsos vs Ideologi Radikal Teroris di Kalbar: Studi Kasus Nurul Hadi

Medsos vs Ideologi Radikal Teroris di Kalbar: Studi Kasus Nurul Hadi
Kegiatan diseminasi media dalam liputan terorisme bersama BNPT-FKPT Kalbar di Hotel Kapuas Palace tahun 2016. Pembicara utama saat itu adalah Ansyaad Mbai mantan Ketua BNPT dan anggota Dewan Pers Jimmy Silalahi.

Oleh: Nur Iskandar

Seiring dengan kemajuan sain dan teknologi, pola komunikasi warga dunia saat ini semakin cepat dan nyaris tak berjarak. Hanya sekali klik, berita tersebar luas.

Berbeda dengan satu dasawarsa “tempo doeloe”. Berita mengandalkan koran dan majalah yang terbitnya mingguan atau harian. Sudah paling maju dengan berita radio serta TV yang bisa up-date per jam. Namun sejak internet menyeruak ke permukaan, melalui aplikasi android, semua tak berjeda. Segala info bisa dipancar-teruskan dari satu daerah ke daerah lainnya, dari satu negara ke negara lainnya. Apakah itu teks, foto, maupun vidio. Perubahan sosial pun terjadi signifikan di seluruh penjuru dunia. Segala sesuatu yang konvensional beralih ke visual-digital.

Data Digital Indonesia yang dilansir pada Januari 2016 mengungkapkan bahwa pengguna internet aktif terdata sebanyak 88,1 juta dari 259,1 juta jiwa penduduk (tingkat urban 55 persen). Adapun pengguna aktif media sosial (medsos) seperti aplikasi FaceBook, WhatsApp, Instagram dll sebesar 79 juta orang. Sebuah angka yang sangat besar untuk perubahan-perubahan mendasar secara sosial.

Keterangan Resmi Polri tentang Penangkapan Nurul Hadi