Data yang dimiliki BNPT-FKPT, dalam hal bermedia-sosial, ISIS sengaja menyebar berita hoaks. Mereka mendisain, per satu isu, bisa memunculkan 500 simpatisan baru di Indonesia.
Apakah ada korelasi antara media sosial yang digunakan Nurul Hadi dengan berita hoaks yang sengaja dicuitkan anggota atau simpatisan ISIS di Marawi? Apakah kecenderungan agitatif dan provokatif yang berasal dari ketidak-puasan atas ketidak-adilan menyisakan sosok-sok lain semacam Nurul Hadi di Kalbar?
Pertanyaan tersebut mesti kita jawab dengan membaca lingkungan di sekitar kita. Salah satu jurus pamungkas menghindari hoaks di media sosial adalah memunculkan fakta dan berita yang benar atau informasi yang benar. Informasi yang benar ini terverifikasi dan bisa dibuktikan. Termasuk kemungkinan pembohongan atas siasat elektronik, seperti cropping foto, cropping suara, dan cropping teks. Kita tidak boleh lekas percaya pada apa yang kita baca, dengar dan lihat. Kita harus cek dan ricek. Kita harus menjadi orang yang nalar dan hanya menyebar berita apabila benar-benar akurat. Tidak boleh copy-paste dan berperan memviralkan sesuatu yang agitatif, provokatif, sementara hal itu sangat subjektif.
