Ujung dari penggunaan cara kekerasan adalah teror/terorisme. Teror/terorisme adalah paham yang membenarkan penggunaan cara-cara kekerasan, menimbulkan ketakutan, pembunuhan, pembakaran, pembajakan, pengrusakan secara serius kepada kelompok yang tidak sepaham dengannya. Trend mengeliminasi kelompok yang tidak sepaham dengan diri ini menjadi early warning system (sistem peringatan dini) bagi pegiat media, termasuk media sosial di Kalbar. Apalagi Kalbar merupakan provinsi yang secara laten terancam konflik anarkistik berlatar etnik. Kini kecenderungan sejarah konflik berlatar etnik itu mulai merasuk ke wilayah agama. Terutama efek dari Pilgub DKI dimana face to face antara Basuki Tjahaya Purnama/Ahok (non muslim) dan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno (muslim). Ketika kasus Ahok perihal kutipan Surah Almaidah menyeruak ke permukaan, maka sejak saat itulah media sosial mudah viral yang syarat agitasi dan provokasi. Dapat dibayangkan, ada 90,1 juta pengguna medsos di Indonesia.
Sisa eskalasi politik tersebut memang mengendap setelah pesta Pilgub berlalu di DKI, namun endapan itu bisa menyeruak kembali seiring pesta demokrasi seperti di Kalbar pada Pilgub 2018. Bahkan tak urung, terpilihnya Gubernur Anies dan dipenjarakannya Ahok menjadi bara yang sesuatu bisa meletupkan api konflik. Indikasinya tampak jelas dari cuitan-cuitan kelompok pendukung masing-masing yang masih sangat mudah menyebar atau viral.
