Opini

Nyaring Bunyi Tuduhan tak Setinggi Suara Kebenaran

Nyaring Bunyi Tuduhan tak Setinggi Suara Kebenaran
Kanan ke kiri: penulis, Prof Dr Anhar Gonggong dan Nuris. Walau beda pendapat, tapi tetap respek satu sama lainnya.

Celakanya, Anhar mengaitkan pembantaian Westerling di Sulawesi Selatan, kemudian menghubungkan itu dengan pahlawan kami dari Kalimantan Barat. Apakah itu ada kaitannya dengan Sultan Hamid II? Terang tak berhubungan. Bahkan untuk kasus yang disidangkan terhadap Sultan Hamid II itu sendiri, Westerling pelaku utama tak dihadirkan, dia disebut kabur ke Belanda. Bagaimana bisa anda menuduh seseorang melakukan kejahatan yang tak dilakukannya, bila dikaitkan dengan perbuatan orang lain, dan tak dihadirkan untuk didengar keterangannya? Ini tidak fair, ini tidak jujur.

Anhar memahami kemerdekaan negara ini secara kaku, an sich. Dia menganggap bahwa tak ada perjuangan diplomasi selain perang gerilya. Sedangkan faktanya bahwa Indonesia berdaulat penuh pada Konferensi Meja Bundar tahun 1949, dengan jasa Sultan Hamid II yang bertandatangan di dalamnya. Dia ingin melepas sejarah Republik Indonesia Serikat (RIS) dalam mata rantai perjuangan berdaulatnya bangsa ini. Bukankah RIS juga Indonesia? dalam bentuk federal, dia pernah ada dengan Presidennya bernama Soekarno dan Perdana Menteri bernama Moh. Hatta. Sultan Hamid II hanya sebagai Menteri Negara Zonder Portofolio kala itu, walau jasanya begitu besar. Itu bagian yang tak terbantahkan dalam perjalanan negara kita yang hari ini bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).