Keempat, berdasarkan angka partisipasi pemilih memperlihatkan peningkatan partisipasi pemilih. Penulis menduga ini karenakan beberapa faktor seperti, komitmen dan kerja keras semua pihak baik penyelenggara (KPU dan Bawaslu), Pemerintah, Aparat Keamanan (TNI dan Polri), tokoh masyakarat, penggiat demokrasi, akademisi, peserta Pilkada dan masyarakat pada umumnya. Kemudian ini juga karena literasi politik masyakarat kita semakin baik. Literasi terkait dengan pengetahuan publik tentang urgensi Pilkada yang demokratis, arti penting partisipasi dan kesadaran publik mengawasi proses pilkada.
Tentu ada variabel lain yang turut menyukseskan pelaksanaan Pilkada di Kalbar. Kemudian, karena kita tiada sempurna (nobody is perfect), Pilkada pasti ada kekurangan di sana sini. Tidak perlu alergi kita membincangkannya, sepanjang demi perbaikan ke arah yang lebih baik. Seperti indikasi money politic, meski sulit dibuktikan, tetapi pengetahuan umum kita menyadari hal tersebut masih terjadi. Fenomena ini harus tetap menjadi common enemy bagi demokrasi kini dan masa depan. Kemudian persoalanan netralitas ASN, ke depan harus dipecahkan dilema antara netralitas dan hal pilih. Agar, ASN tidak diposisikan serba salah.
Sebagai rekomendasi dari tulisan ini, perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam dan komprehensif, sehingga hasilnya dapat dibukukan sebagai succes story perjalanan demokrasi di Kalbar.
(*Penulis adalsah Dosen di IAIN Pontianak)
