Untungnya waktu itu label rekaman musik itu dikomandani oleh seorang bule yang meminta dalam dua hari mencari grup ini, sebelum memakai nama Arwana, setelah mendengar masternya dan langsung diminta membuat video klip. Jika bukan bule, mungkin band Arwana yang terkenal sekarang ini, tidak akan mewarnai blantika musik Indonesia. Meskipun, disodorkan grup lain berasal dari Jawa, ditolaknya. Justru memilih grup musik dari Kalbar yang akhirnya dapat merasakan lika-liku industri musik yang kompetitif, sebelum bergegas beranjak ke belakang.
Sepertinya, Bang Yudie menangkap sinyal untuk ngajak ngobrol sehingga mbelain berpindah tempat duduk dari dekat menuju kursi yang menjauh dari kursi wali kota. Sejenak bersama dapat terwujud sekaligus sedikit menepis dingin dan kebosanan membuncah. Langkahnya mendekat memberikan sinyal sebagai sosok terbuka, humble, kata orang baratnya sungai (baca: bule). Obrolan pun sejenak menemukan jalannya di tengah jalan utama menemui wali kota.
Penampilan sederhana khas seniman atau mungkin demikian seniman yang sudah merasai asam-garam kesenian level tertentu, lebih terlihat sederhana, bahkan cenderung apa adanya. Tampilan sederhana itu yang mungkin memudahkan mengambil kursi bersebelah untuk ngobrol sejenak, tentu dengan tetap bermasker sebagai protokol kesehatan saat pandemi. Maklum pertemuan waktu itu dalam masa tanggap darurat pandemi, yang juga merambah sampai Kota Pontianak, kota seribu parit seribu surau.
