Pada gilirannya, Band Arwana memuncaki blantika musik Indonesia dengan karya-karya diterima di hati masyarakat. Selain lirik lagunya yang enak dan komunikatif yang hampir semua hasil tangan dingin Yudie Chaniago, segi musikalitasnya berbeda dengan band-band waktu itu. Penggunaan alat musik gesek biola misalnya yang dimainkan Hendri Lamiri menjadi penanda beda dari grup-grup musik lainnya. Termasuk, memasukkan instrumen perkusi sebagai alat musik etnik bernuansa Melayu dalam industri musik, menambah lain dari yang lain Arwana sebagai pengaruh musikalitas Yudie Chaniago yang punya perhatian lebih terhadap musik etnik.
Kerja seni seperti itu dengan musik dengan notasi etnik Melayu menjadi pembuka jalan band-band berikutnya yang bernuansa Melayu, begitu jelas Yudie Chaniago. Gaya bermusik etnik yang enak didengar (easy listening) ternyata sudah berjalan seperempat abad di dunia industri musik yang kompetitif. Hitungan usia yang tidak mudah, 25 tahun, menggawangi sebuah grup band musik. Arwana akan terus dicatat dalam sejarah permusikan dari Kalbar yang telah memberi warna beda di blantika musik Indonesia. Bahkan, menggelitik lontaran Yudie Arwana, Kalbar dikenal oleh tiga, yaitu sungai terpanjang, Tugu Khatulistiwa, dan Arwana grup musik.
