Tidak ada pergerakan senjata dan pasukan. Tidak ada “body-contact”, dan keduanya menemui ajalnya tanpa ada baku tembak, bahkan berjalan baik-baik saja sesama anak Bangsa. Antara kedua sultan ini bersahabat sejak kecil di bangku sekolah dasar hingga berkuliah di Belanda dan sama-sama anggota Kabinet RIS.
Begitupula antara Sultan Hamid II dengan Presiden RI, Ir Soekarno, juga berakhir dengan manis, di mana Sultan Hamid dan Soekarno saling maaf-memaafkan (saksikan di film dokumenter Museum Konferensi Asia Afrika, pernyataan dari Sekretaris Pribadi Sultan Hamid, Max Jusuf Alkadrie dan tertuang di dalam buku Satu Abad Bung Karno).
Akhirnya, semua tendensi negatif atas Sultan Hamid mesti segera diakhiri pada era Pandemi Cofid 19 ini sebagai bonus Work From Home di mana kita lebih jeli mengkaji sejarah NKRI yang kita amat sangat cintai ini. Tentunya tanpa tendensi apa-apa yang subjektif. Tentu atas kajian ilmiah tanpa emosi melainkan rasional-profesional. Hal ini sesuai dengan amanat Bapak Presiden RI Ir H Joko Widodo untuk “membajak” Pandemi-Covid 19 dengan spirit NKRI agar kita terbebas dari resesi. Juga “gerak cepat” kerja-kerja-kerja. Termasuk “membajak” resesi sejarah NKRI itu sendiri.
