Mari kita bersihkan nama Allahyarham Sultan Hamid bahwa Beliau itu nasionalisme sejati kepada Republik Indonesia. Beliau lahir dan dimakamkan di Indonesia. Beliau berjasa atas pengakuan kedaulatan RI selaku Ketua BFO bersama Drs Moh Hatta sebagai ketua delegasi mewakili Indonesia di KMB-Den Haag, Belanda, 1949.
Allahyarham Sultan Hamid II berjasa mewariskan Lambang Negara dan Gedung Pancasila selaku Menteri Negara Zonder Porto Folio Kabinet Republik Indonesia Serikat. Allahyarham berjasa mewariskan lapangan terbang di Kalimantan Barat, mewariskan semangat pluralitas di Kalimantan Barat dengan pembentukan Kompi Dayak dan anggota Dewan Pengurus Harian Daerah Istimewa Kalimantan Barat yang multietnis–dimana spirit kemajemukan sekarang rentan sekali di NKRI–begitupula semangat otonomi daerah yang sejak orde reformasi ditabalkan ke dalam UU Otonomi Daerah.
Akhirnya, dalam UU No 20 tentang gelar kepahlawanan, semua syarat telah dipenuhi untuk Sultan Hamid II dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Termasuk hukuman penjara yang dijalaninya atas proses “peradilan politik”. Beliau menjalani putusan dengan ikhlas tanpa meleburkan diri kembali di pentas politik. Namun Beliau berkontribusi untuk pembangunan NKRI. Yakni memfasilitasi terbangunnya sarana dan prasarana transportasi NKRI, termasuk industri penerbangan Nusantara-Garuda.
