Oleh: Dian Alqadrie
Ayahanda Prof Syarif Ibrahim Alqadrie, Syarif Achmad bin Syarif Muhammad Alqadrie juga menjadi korban keganasan tentara Dai Nippon Jepang pada masa Perang Dunia Kedua.
Beliau adalah seorang ahli sketsa bangunan perkantoran, istana, rumah sakit, kopol, pasar, mesjid, termasuk fasilitas umum serta ahli menulis plank kantor (zaman dulu belum dikenal design sablon dan mesin cetak dan komputer). Kalau boleh dikatakan arsiteknya zaman dulu.
Keahliannya itu merupakan jalan baginya bekerja di pemerintahan kala itu yang saat ini setara dengan kantor dinas Pekerjaan Umum.
Kemahirannya memperindah bangunan bangunan bersejarah untuk direnovasi juga salah satu aktivitas yang sangat dicintainya.
Bahkan, saat beliau menjadi salah satu sasaran genosida yang dilakukan oleh tentara Jepang di belahan Barat dari bumi Kalimantan. Beliau masih dan sedang merenovasi istana Muliekerte, kesultanan Matan di Kecamatan Benua Kayong, Kabupaten Ketapang.
