Saya mengusulkan agar aktivis pers kampus Miun mengembangkan adagium pers alternatif. Dengan demikian karya mereka orisinil ketimbang pers mainstream. Mereka juga dapat menjahit karya yang terpecah-pecah ke dalam jurnal ilmiah ataupun buku. “Bisa buat devisi baru, bernama devisi buku. Jangan kalah dengan Club Menulis di IAIN!” Saya memberikan perbandingan bahwa di Club Menulis IAIN telah terbit ratusan judul buku.
Saya menyebutkan bahwa Mimbar Untan merupakan tempat yang subur untuk menempa diri dan pengetahuan yang luas. Lihatlah alumninya seperti Prof Dr Chairil Effendy, Ir Baskoro Efendi, Drs Suryadi Sowinangun, Dra Sarmini, Sri Nur Aeni hingga Syafaruddin Usman. Sementara di blantika pers daerah ada Heriyanto Sagiya (Pemred Pontianak Post), Ashrie (wartawan Pontianak Post), Hasyim Asy’ari (Direktur Tribun Pontianak), Stefanus Akim (Redpel Tribun Pontianak), dan masih banyak lagi untuk dapat disebutkan satu per satu. “Sebagai aktivis pers kampus, haram hukumnya untuk ditolak bekerja di pers profesional. Ini kalau Anda benar-benar menempa diri dengan berjurnalisme ria.”
Aktivis lingkungan hidup yang juga alumni Mimbar Untan, Anas Nasrullah menimpali, “Kalau sudah passion, pasti jadi. Passion ini yang mesti ditumbuhkan,” ungkapnya menyebut nama lain alumni Miun yang sukses di NGO, bahkan PNS serta perusahaan-perusahaan besar swasta.
