Di sela-sela makan nasi, telor dadar dan seiris daging, kami dijamu layaknya kami adalah tamu. Lalu percakapan mengalir, dan kami berjanji pada diri sendiri untuk mengabarkan apa yang saya saksikan dan dengarkan dari perspektif mereka sebagai korban. Kami intinya saling membantu.

Sebelumnya, saat tiba di kota Poso, kami mati-matian mencari genset (yang akan kami bawa ke Palu, karena listrik padam), dan ternyata tidak gampang – di hari Minggu (30/09) semua toko nyaris tutup. Kami mengetok pintu dua atau tiga toko, dan salah-seorang diantaranya membantu sekuat tenaga untuk mencarikannya ke teman-temannya dan akhirnya kami mendapatkan ‘nyawa’ bernama genset.
Orang-orang ini sama-sekali tidak kami kenal. Kami hanya mengenalkan sebagai jurnalis dan hendak melakukan liputan ke Palu. Dan mereka adalah warga Poso yang sebagian keluarganya di Palu ikut terdampak bencana itu. Tapi kami dapat bekerjasama -saling menolong.
Dalam perjalanan menuju ke Palu, yang memakan waktu hingga 10 jam, pemilik sopir yang kami sewa hanya ‘berani’ mengantar saya dan kameramen hingga di satu desa jelang masuk dataran tinggi Kebun Kopi. Kami memaklumi, tapi dia membantu kami untuk meyakinkan pemilik mobil lainnya – yang baru dikenalnya – untuk ‘mengantar’ kami ke Palu.
