Hadir pula orang-orang yang melibatkan diri di jalan sunyi – jauh dari publikasi. Di Rumah Sakit Undata, yang ditinggalkan hampir separoh tim medisnya, sebutlah, saya mendapati puluhan orang relawan tim medis yang berjibaku dalam kondisi serba darurat.
“Siapa lagi yang bisa menolong mereka, kalau bukan kita,” kata Helmi, mahasiswa Kedokteran Universitas Tadulako, Palu, Helmi, yang berusia 22 tahun. Di dekat ruangan gawat darurat, saya bertemu pula seorang perawat rumah sakit yang memilih menolong orang lain ketimbang memilih menyelamatkan diri. “Sudah menjadi kewajiban saya,” Nada suaranya datar, dan dia kemudian meminta ijin untuk melanjutkan kewajibannya sebagai perawat.
Di dekat perumahan yang ambles ditelan bumi, pemandangan haru terlihat ketika relawan, TNI, tim SAR saling bekerjasama mencari korban meninggal di bawah reruntuhan, dicatat dan disalatkan. Saya berpikir: jati diri mereka tak akan tercatat dalam lembaran sejarah panjang petaka di Indonesia, tapi saya yakin keluhuran mereka membuat jiwa mereka makin kaya.
