Daerah

Palu yang Mencerahkan

Palu yang Mencerahkan

Memasuki hari keempat, saya beruntung menemukan warung makanan di sudut kota itu. Tetapi jangan harap menemukan makanan lezat seperti yang tertera di menu. “Yang ada mie dan nasi…” Saya tentu saja tidak menolaknya. Si pemilik warung mengaku tetap membuka warung dua hari setelah bencana karena “hidup harus berjalan terus”, meski sebagian keluarga besarnya menjadi korban tenggelamnya sebuah perumahan di pinggiran kota Palu.

Bicara soal kelangkaan makanan, saya dan dua rekan kerja seperti menemukan “surga dunia” usai meliput kampung tenggelam di dekat bandara. Salah-seorang keluarga korban yang kami interviu menyediakan lima atau enam buah mangga muda (pencit) dan bumbu rujak. Kami pun melahspnya dan larut dalam kebahagiaan berbalut keramahtamaan tuan rumah – yang juga pengungsi.

Dan, pada suatu malam yang gelap, usai mengirim berita di Kantor Telkom (yang wifinya kencang – berbeda di lokasi tempat kami tinggal), saya harus balik ke “hotel” yang jaraknya lumayan jauh. Saya tak tega menganggu sopir kendaraan yang kami sewa. Lalu kenapa tidak menumpang warga yang siapa tahu menuju arah yang sama?