Dua atau tiga motor lewat, namun ada satu motor mematikan mesinnya dan langsung bersedia saya tumpangi. “Pak Iwan” begitu dia memperkenalkan. Belakangan saya ketahui dia berasal dari Tasikmalaya, Jawa Barat, dan merantau ke Palu sekitar 30 tahun silam. Di motornya, dia membawa jirigen untuk digunakan mengantri membeli BBM.
“Malam hari, biasanya saya antri…”
Selama bencana, pria berumur 55 tahun ini terpaksa menganggur. Saya tidak pernah menanyakan profesinya, kecuali dia mengisahkan awal mula dia menekuni pekerjaannya di bidang optik.
Keesokan harinya saya memutuskan untuk “menyewanya” keliling Palu – menengok kawasan Pecinan yang senyap, mendatangi lokasi pengungsian di depan kantor wali kota, mewawancarai orang tua yang “kehilangan” anaknya yang berusia enam tahun, mendatangi lagi perumahan yang ambles, hingga kantor telkom serta… kembali ke “hotel”.
Sosok pak Iwan, Talib, pemilik warung, pimpinan gereja, mahasiswa calon dokter, perawat yang kurang tidur, imam yang memimpin salat jenazah, pengelola sebuah hotel, hingga anggota TNI dan polisi, serta sosok-sosok anonim yang tak tercatat sejarah, adalah berkah buat saya…
