Malam itu kami tidur ayam dan sesekali dikejutkan gempa susulan yang disertai “dung” dari bawah tanah yang kami tiduri. Hiburan kami satu-satunya malam itu adalah langit nan terang kota Palu yang dihiasi gemerlap gugusan bintang – hal yang mustahil bisa saya dapatkan di langit Jakarta yang sesak dengan asap kendaraan.
“Ayo silakan sarapan dan minum kopi,” suara renyah ini mengambang dari salah-seorang pimpinan gereja, sekaligus sapaan untuk tamu yang baru tiba, keesokan harinya. “Tolong beritahu, jika ada yang bisa kami bantu…” Kami lagi-lagi terharu mendengarnya.

Di komplek gereja itu, saya juga bertemu sesama jurnalis yang juga mendirikan tenda di halaman sampingnya. Selama liputan hari itu, kami menitipkan dua tas berat yang kami bawa dari Jakarta.
Sampai hari ketiga, Senin (01/10), listrik masih padam, BBM langkah, dan sembako sulit didapat. Saya juga sudah mendengar mulai ada penjarahan bahan makanan pokok. Beberapa warga Palu yang saya wawancarai mengaku “terpaksa” melakukannya karena “tidak ada beras untuk dimasak”, tapi tak sedikit yang menolaknya. Mereka inilah yang saya temui dalam antrian panjang di markas Korem Tadulako di siang hari yang terik.
