“Saya tak sempat masuk HMI karena sejak SMP-SMA sudah di Mujahidin dan ketika kuliah sudah berinteraksi dengan Bang Imaduddin Abdurrahim tokoh sentral HMI bahkan Cak Nur–Prof Dr Nurcholis Madjid,” kata Nur Hasan yang kini mengembangkan pola kemakmuran mesjid dengan trio huruf MSQ, yakni Mesjid-Subuh-Quran. “Mesjid tempatnya. Subuh waktunya. Quran kontennya.” Demikian kata takmir senior Mujahidin yang selalu mendampingi inisiator berdirinya Mesjid Raya Mujahidin HA Mawardi Dja’far tokoh sentral Muhammadiyah pada zamannya hingga tutup usianya. Nur Hasan sempat menuliskan biografi hidup HA Mawardi Dja’far dengan judul “Setetes Embun Penyejuk Jagat” diterbitkan Penerbit Universitas Tanjungpura Press di masa Rektor Prof H Mahmud Akil, SH dengan dua penulis pendamping masing-masing sejarahwan muda Syafaruddin Usman dan saya. Di dalam buku yang launching tahun 1993 dengan editor Prof Dr Syarief Ibrahim Alkadrie, M.Sc itu tergambar relasi antara para tokoh di Muhammadiyah yang garis lurusnya berhubungan erat dengan HMI serta tokoh-tokoh nasional Masyumi, bahkan Petisi 50 seperti Deliar Noer, mantan Perdana Menteri Muhammad Natsir, Akbar Tandjung, hingga tokoh politik AM Fatwa.
1/2 Abad + 1th “Tokya” Nur Hasan
