Sepanjang inap di Hotel Sofyan Betawi–baru kali ini setelah dua puluh tahunan kami tidak tidur sekamar. Maka kali ini nyaris kami tidak tidur karena saling bercerita. Bertukar pengalaman. Si Abang dengan ilmu kemasjidan, sedangkan saya ilmu liputan. Pertautan tokoh dan peristiwa dengan membongkar latar belakang dan esensi pergerakan mereka di lokal Kalbar, maupun nasional-internasional–bahkan dunia-akhirat. Ada urusan mental yang tak boleh ciut seperti mental tempe dan kerupuk. Dalam berjihad haruslah liyut!
Tokya bercerita soal masa remaja di SD Imaduddin–wakaf tanah ibundanya Hj Halijah yang lahir persis kelahiran HMI 5 Februari yang selalu menegasikan upaya memperkuat kemerdekaan Indonesia dengan nilai mencari ridho Allah SWT, dan SMP-SMA Mujahidin yang dibesarkan oleh tokoh-tokoh HMI dan Muhammadiyah–lekat dengan dua kata: Jihad (Mujahid) dan Muhammad SAW–Rasulullah. Lalu Nur Hasan studi ekonomi di STIE Boedi Oetomo dengan aktor intelektual Drs H Dg Yakim Noor, seorang tokoh nasional berasal dari keluarga besar Masyumi. Putra Dg Yakim Noor sekarang adalah Kepala Dinas Kehutanan, Ir H Adiyani, MH. Bersama dengan Tokya merawat wakaf H Sakke di mana kini berdiri Tsanawiyah dan SMA Boedi Oetomo di Sungai Raya Dalam–Parit Haji Husin sekaligus beririsan dengan Madrasah Ibtidaiyah Imaduddin wakaf dari Hj Halijah–sementara Munzalan Mubarakan berada di sebelah Imaduddin.
