Opini

1/2 Abad + 1th “Tokya” Nur Hasan

1/2 Abad + 1th “Tokya” Nur Hasan

Walaupun Nur Hasan adalah abang kandung saya dan kami besar sekamar sejak balita hingga Abangnda Nur Hasan menikah tahun 1992, tak banyak pengetahuan saya tentang ilmu kemakmuran mesjid. Termasuk perkembangan Mesjid Raya Mujahidin atau Munzalan Mubarakan Ashabul Yamin. Saya baru dapat segudang informasi kala menemani Abangnda menemui Boss Semen Tonasa–Korporasi Bosowa–kelahiran Sulsel–mantan anggota MPR RI–Aksa Mahmud di Mesjid Sunda Kelapa. “Ndar ketahuilah bahwa mesjid yang paling makmur di Jakarta bukannya Istiqlal tetapi Sunda Kelapa,” kata Bang Nurhas–sapaan akrab saya yang kelak kemudian setelah Nurhas memperoleh cucu pertamanya, sapaannya berubah menjadi datok. Dan karena hampir setiap ide anak-anak muda di Munzalan Mubarakan dielu-elukannya menjadi “jadi” tidak pernah berkata tidak, selalu saja “Iya”, maka sapaan akrabnya saat ini adalah Tokya. Datok yang suka meng-iya-kan apa saja ide-ide brilian demi kemakmuran mesjid. Kemakmuran mesjid di Kalbar bias dan pias menyala dari pertumbuhan dan perkembangan mesjid kapal Munzalan Mubarakan. Laporan terakhir saya baca, bahwa Gerakan Infak Beras seluruh Indonesia sudah hampir menyentuh angka 1.000 ton di tahun 2020. Bergerak di 24 provinsi. Menyentuh hampir 300.000 santri penghapal Quran dan Yatim-Piatu. Sebuah pergerakan angka dakwah yang besar dan ratusan miliar…

Baca Juga:Demo buruh?