Wawancara adalah sesuatu yang menyenangkan sebagai wartawan. Kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Narasumber menjawabnya. Baik mikir dulu, maupun spontan. Dari dialektika wawancara, setiap wartawan pasti tahu seorang narasumber itu matang karena proses “perkelahian” dengan zamannya, atau justru sebaliknya: karbitan. Dari gerak mata,intonasi, getar bibir, kita wartawan juga tahu narasuber bicara jujur atau berbohong. Ada gelombang mikrokosmos yang bisa kita tangkap dengan perasaan dan pikiran. Foto juga menangkap raut wajah, cermin isi hati di alam bawah sadar sana.
Ada narasumber saya, yang mandi keringat diwawancarai puluhan wartawan, namun ditunggu bermenit-menit, tak satu kata pun keluar dari mulutnya. Padahal cita-citanya tinggi hendak menjadi bupati. Ini narasumber paling lucu yang pernah saya hadapi. Saking demam panggungnya hendak menjadi pejabat publik, wartawan tak tega, lalu satu persatu pamit pulang. Ha ha haaa….
Saya sungguh tidak tega. Rupanya berita di balik berita, sosok satu ini korban para “pengampur”. Korban “gong gong angin lambong”.
Dia punya banyak duit dan diprovokasi orang, bahwa dia amat cocok menjadi Bupati. Habislah duitnya dibelai para mafia pasar. Uang di kantong habis, muka pucat pesai, jabatan tinggi ranah politik pun buyar.
Dialektika Sultan Hamid dengan Wartawan: Cerdas! Tahu Sejarah akan Dibengkokkan
