Opini

Dialektika Sultan Hamid dengan Wartawan: Cerdas! Tahu Sejarah akan Dibengkokkan

Dialektika Sultan Hamid dengan Wartawan: Cerdas! Tahu Sejarah akan Dibengkokkan
Sultan Hamid bersama sang istri--blasteran Belanda dan Kerajaan Sulawesi Selatan--Dina Didi Van Delden. Foto repro internet

Ketika menjawab wartawan, lisan kata-katanya untuk pencitraan politik, atau jujur menyampaikan kenyataan sebagai seorang perwira kesatria? Dari kedua mainstream itu, saya akan menyimpulkan Hamid pria tipikal pemimpin atau pecundang.

Pahlawan atau pengkhianat.

Perburuan pun dimulai dengan Hut seabad pers Kalimantan Barat. Melalui panitia pelaksana, Ahmad Sofian, kebetulan adik tingkat saya di pers kampus Mimbar Untan, “Sedikit sekali berita tentang Sultan Hamid kanda. Ada 1 berita kala dia menikahi Dina Didi Van Delden. Baru itu,” katanya.

*
Saya teringat buku tentang Sultan Hamid. Sejarah Lambang Negara Indonesia, hasil kerja tim Kementerian Luar Negeri dan Museum Konferensi Asia Afrika. (2012). Di sini alur pikir Sultan Hamid dikuliti pertanyaan wartawan Mercu Buana bernama Solichin Salam. Simak selengkapnya teks kalimat Hamid (ejaan lama, diketik ulang oleh Sekretaris Pribadi yang juga cucu Sultan Hamid, Max Jusuf Alkadrie–juga sudah almarhun, 21 Januari 2019 lalu–Alfatihah):

“Bung Solichin dan djuga kerabat saja!”
“Djangan pasang lambang negara di rumahmu sebelum diakui lambang itu oleh negara rantjangan saja!”
“Bersama ini perlu didjelaskan di sini berkenaan pertanjaan tentang file lambang negara yang saja buat sebagaimana saudara adjukan kepada saja, tanggal 13 April 1967”.

Ditugaskan Soekarno