Demikianlah djawaban saja atas pertanjaan Saudara Solichin Salam dan semoga mendjadi pendjelasan jang objektif mendjawab surat Saudara. Jikalau kurang djelas, harap Saudara berkundjung ke kediaman saja kembali setiap saat, terimakasih atas hal yang sudah dipertanjakan kepada saja mendjadikan sesuatu jang bermanfaat bagi bangsa jang ditjintai oleh kita.” Djakarta, 15 April 1967. Ttd Hamid. Disalin kembali sesuai aslinya oleh Sekretaris Pribadi Sultan Hamid II, tanggal 1 Djuni 1971, oleh Max Jusuf Alqadrie (Cucu dan Sekretaris Pribadi Sultan Hamid II).Sebagai wartawan terus terang saya puas atas penjelasan Sultan Hamid atas pertanyaan Solichin Salam. Istilah saya dalam bekerja, orang seperti Sultan Hamid ini, sedikit saja pertanyaan diajukan,panjang lebar ulasan dan jawaban. Untaian kronologisnya logis. Tokoh-tokoh yang disebutnya faktual. Tidak ada yang disembunyikan, bahkan Hamid menantang wartawan untuk verifikasi. Siapakah sosok yang dirujuknya untuk verifikasi? Ternyata Moh Hatta. Sosok ilmuan yang jujur tiada ego dan ambisi merajalelanya.
Saya berkesimpulan, dari pertanyaan wartawan, atas nama Solichin Salam, bahwa Sultan Hamid memang cerdas bin brilian. Ia bahkan sudah punya prediksi pula, kalau tak segera diverifikasi, bahasa kita orang Kalimantan, “Ntar sejarah dibengkokkan.” Selalu ada premis mayor sang pecundang. *
