Beranjak dari interaksi dengan banyak tokoh saya membuat perbandingan dengan Sultan Hamid II Alkadrie yang kini sedang “diributkan” secara nasional. Tepatnya pasca muncul keras dan lugas dari mulut mantan Kepala Badan Intelijen Negara–tak tanggung-tanggung Prof Dr AM Hendropriyono. Mengenai Sultan Hamid yang sudah wafat sejak 1978 masih disebutnya sebagai pengkhianat negara. Padahal sudah banyak penelitian terkini, hanya mungkin belum Beliau update. Begitupula sejarahwan Dr Anhar Gonggong yang juga berteriak nyaring, bahwa Sultan Hamid II berjasa, namun punya cacat sejarah. Yakni di tahun 1946 dia menerima pangkat Mayor Jenderal dan pengawal khusus Ratu Wilhelmina sementara “kita” dikejar-kejar Belanda. Lalu di mana patriotismenya?
Sehebat apa sih Sultan Hamid? Apa rekam jejak wartawan dengannya? Saya jadi tertarik untuk riset kecil-kecilan. Apalagi melihat saat Hamid dibawa ke meja pengadila tahun 1953 atas penangkapannya April 1950 dengan tuduhan makar. Tudingan memberontak kepada negara.
Sejumlah buku saya kumpulkan. Teks-teks berita tentang Sultan Hamid saya pelajari, seolah saya wartawan yang hadir pada saat itu.
Saya hanya mau tahu beberapa hal. Pertama: macam apa sosok Sultan Hamid itu kok jadi musuh bersama alias ‘common anemy’?
