Oke, kami pasrah karena kami hanya rakyat jelata, tetapi masih ada jalan lain. Ketika saluran aspirasi tersumbat, suatu saat ketertutupan itu akan meledak. Hukum fisika dan kimianya demikian. Hukum sosial begitupula adanya.
Buruh dan rakyat semesta Nusantara pasti menemukan kearifannya. Dalam bentuk unjuk rasa yang semakin menebal dan mengental. Mereka mengingatkan pimpinan tiran yang telah dijadikan boneka para cukong politik maupun pemilik modal. Kami juga memiliki jalur kearifan sendiri. Cukuplah publik turut mengadili kembali bahwa sesungguhnya Sultan Hamid bukan pengkhianat negara, dan agen BFO sebagai boneka Belanda, namun dia berjasa besar kepada Indonesia. Bahwa Sultan Hamid sebenar-benarnya adalah pahlawan nasional, cuma Negara tutup mata dengan kacamata kuda akibat euforia unitaris mengalahkan federalis.
Kami pilih kearifan lokal sendiri: yakni dengan memberikan anugerah Sultan Hamid II Pahlawan Bangsa. Pengakuan dari daerah sebagai penguatan kesatuan otonomis-asimetris. Demikian menurut hasil kurasi tim pakar di Teraju News Network (TNN).
Anugerah Sultan Hamid II Pahlawan Bangsa akan disampaikan pada 29 Oktober 2020. Persis ulang tahun pengangkatannya sebagai Sultan ketujuh Kesultanan Qadriyah yang kemudian menjadi titik tolak tampilnya Hamid ke pentas negarawan Nusantara. (29/10/1945–29/10/2020). Sekaligus memaknai Hari Jadi Kota Pontianak 23 Oktober 1771-2020 serta Sumpah Pemuda 28/10/1928-2020.
