Ketika Presiden kunjungan kerja mengecek food estate di Kalimantan Tengah, Kamis, 8/10/2020 di saat istana dikepung demonstran menjadi trending topik tagar Presiden Kabur. Di saat yang sama situs web DPR RI diretas dengan Dewan Pengkhianat Rakyat–padahal DPR itu Dewan Perwakilan Rakyat. Begitulah frasa pengkhianat dengan mudah membuncah di panggung politik.
Saya sendiri merasakan hal tersebut di atas sebagai “tulah” (bumerang). Di mana sejarah berulang. Demikian agar kabinet bisa merasakan bagaimana sakitnya rasa dituduh sebagai pengkhianat negara?
Presiden dan anggota kabinet terlihat muka berlipat empat, bagaimana Sultan Hamid II meringkuk di penjara sampai 8 tahun lamanya seraya senyum tiada dendam? Padahal beliau Sultan. Padahal beliau Menteri Negara?
Tidakah ini dosa kolektif atas nama Negara yang mestinya ditutup dengan permohonan maaf sekaligus menempatkan namanya ke posisi terhormat Pahlawan Nasional? Bukankah itu solusi kami yang tepat sebagai ishlah sejarah demi marwah NKRI jauh dari tulah–rasa bersalah yang ditutup-tupi karena malu sahaja?
