“Dulu masa kami kecil, orang orang Islam sudah maju. Maka nama kami diambil dari nama tokoh daerah yang kaya-kaya, berpendidikan, supaya kami juga bisa seperti mereka. Maka nama saya Kadir. Banyak nama orang Dayak masa lalu itu nama-nama Islam,” kenangnya.
Dari sanalah LHK disematkan sebagai Long Haji Kadir oleh rekan-rekannya sesama birokrat. Hebatnya Pak LHK santai dan santuy dalam kelakar tersebut, sama sekali tidak ada rasa tersinggung malah larut dalam keharmonisan dan keselarasan. Jargon politik LHK bersama UJ waktu itu memang mengusung trisimetri, “Harmonis dalam Etnis. Tertib dalam Pemerintahan. Maju dalam Usaha.” Mereka bersatu dan berpadu. Era UJ-LHK Kalbar terbukti aman dan nyaman.
Kenapa politik santun? Saya dalami ketika menulis buku biografi Drs Cornelis, MH, kepala daerah Landak dua periode yang memenangkan kontestasi politik Gubernur. Ia mengalahkan UJ-LHK di tahun 2008.
