Opini

Manaqib Allahummayarham Maulana Seri Sultan Syarif Abdul Hamid Alkadrie Sultan Pontianak Ke-VII

Manaqib  Allahummayarham  Maulana Seri Sultan Syarif Abdul Hamid Alkadrie  Sultan Pontianak Ke-VII
Turiman, keenam dari kiri ke kanan saat diterima Gubernur Kalbar bersamaan sosialisasi Pahlawan Nasional oleh sejarawan UI Prof Dr Anhar Gonggong, 27/11/19

Syarif Hamid mengenyam pendidikan formal di Sukabumi, Yogyakarta dan Bandung. Atas perintah abah nya, ia kemudian menjalani pendidikan Militer selama ±4 Tahun ke Koninklijke Militaire Academie (KMA) di Breda Belanda sebagaimana layak nya anak seorang bangsawan pada umum nya Di Breda Belanda ini mereka dididik bukan hanya pendidikan militer saja, mereka juga dibekali pengetahuan tentang leadership (kepemimpinan) selain kecakapan umum lain nya, untuk bekal mereka nanti di saat kelak mereka menjadi Raja Sultan atau pun sebagai pemimpin lain nya di Negeri nya masing masing. Selama di Negeri Kincir Angin tersebut Syarif Hamid lebih dikenal dengan nama Panggilan “Max”. Saat Beliau bertugas di Malang di tahun1936, Syarif Hamid bertemu jodohnya seorang warga Negara Belanda Marie Didie van Delden, yang kemudian dinikahi nya dan memperoleh dua orang anak yakni:

– Syarifah Zahara Alkadrie atau Edith Corrie

– Syarif Muhammad Yusuf Alkadrie atau Maxnico