Setelah bebas dari penjara yang terpaksa dihuni nya, akibat fitnah yang mendera diri nya. Sultan Hamid II memilih untuk mengurus keluarga besarnya dan mengasuh anak dari adik kandungnya Pangeran Mas Perdana Agung yakni Syarif Abubakar Alkadrie di Pontianak dan Jakarta selain membangun bisnis penerbangan komersil nya. Mengasuh anak-anak saudara kandungnya sampai berhasil disegala bidang dan mengkader spirit kepemimpinan yang baru untuk menggantikan estafet pembangunan Pontianak dimasa depan. “Jangan Pernah Lupakan Sejarah Kita, Pendahulu Kita Para Sultan Pontianak dan Risalah Islam yang harus terus diwariskan”.
Hari Kamis, 30 Maret 1978 bertepatan dengan 21 Rabiul Akhir 1398 Hijriyah, Maulana Seri Sultan Syarif Abdul Hamid Alkadrie menghembuskan nafas terakhirnya pada saat ia sedang menunaikan kewajiban sebagai hamba untuk tuhanya dalam keadaan sujud akhir di waktu shalat Isya’, menyusul ibundanya Maha Ratu Suri Syekha Jamilah Syarwanie yang telah lebih dahulu wafat setahun sebelumnya. Kota Pontianak berduka kehilangan pemimpin besarnya. Proses pemakaman dipenuhi oleh seluruh masyarakat tua maupun muda yang ingin ikut serta mengantarkan beliau ketempat peristirahatan terakhirnya.
Manaqib Allahummayarham Maulana Seri Sultan Syarif Abdul Hamid Alkadrie Sultan Pontianak Ke-VII
