Opini

Manaqib Allahummayarham Maulana Seri Sultan Syarif Abdul Hamid Alkadrie Sultan Pontianak Ke-VII

Manaqib  Allahummayarham  Maulana Seri Sultan Syarif Abdul Hamid Alkadrie  Sultan Pontianak Ke-VII
Turiman, keenam dari kiri ke kanan saat diterima Gubernur Kalbar bersamaan sosialisasi Pahlawan Nasional oleh sejarawan UI Prof Dr Anhar Gonggong, 27/11/19

Syarif Abdul Hamid Alkadrie pada medio bulan Juni 1945 dibawa pulang oleh tentara Nica dan Tentara Australia ke Pontianak. Di sisi lain Keluarga Kesultanan yang tersisa dan masih hidup pada saat itu, menyarankan kepadanya agar segera menjabat sebagai Sultan Pontianak menggantikan ayahanda nya yang telah Syahid menghadap Allah Azza Wa Jalla.

Beliau sempat menolak dan berencana untuk terlebih dahulu mencari keberadaan jenazah Ayahanda dan saudara-saudaranya Hingga akhir Oktober 1945 berakhirlah evakuasi yang dilakukan oleh Syarif Hamid II dengan laskar dan rakyat yang ikut membantu nya, ditengah proses evakuasi yang dilakukan nya ia kemudian menemukan jenazah ayahanda nya disebuah pekuburan Belanda dengan jasad yang masih utuh, meski telah wafat dalam waktu yang cukup lama. Ia kemudian menguburkan Ayahanda nya di pemakaman keluarga Kesultanan di Batulayang, begitu juga dengan seluruh korban-korban genosida lain nya setelah mereka didata, dan untuk mengenang sejarah yang telah menumpahkan banyak darah dan nyawa itu, kemudian Beliau bersama sanak saudara korban pembantaian jepang tersebut membangun tugu sebagai monumen peringatan untuk mengenang korban kekejaman dan pembantaian tentara jepang tersebut.