Opini

Merawat Kerukunan di Daerah Pusaran Konflik

Merawat Kerukunan di Daerah Pusaran Konflik
Warga Sidodadi sedang "Rewang"

Tetapi, sebenarnya apa yang terjadi di sini cukup menarik. Orang di kampung ini saling mengunjungi, termasuk yang bukan beragama Islam.

Mbah Sukito beragama Protestan. Beliau satu di antar belasan warga di sini yang beragama Protestan. Sementara di kampung Sidodadi ini mayoritas beragama Islam.
Sebagai muslim, lebaran adalah tradisi yang dimeriahkan. Setiap rumah membuka pintu untuk menerima kunjungan tetangga. Tuan rumah menyediakan kue dan minuman yang disediakan untuk tamu yang datang. Termasuk yang bukan Islam, seperti Mbah Sukito sekeluarga.

Menurut Mbah Sukito, tradisi ini mereka lakukan karena dalam keluarganya, multi agama; Islam dan Protestan. Mereka ikut lebaran karena keluarga dan tetangganya ada yang beragama Islam. Selain itu, Mbah Sukito salah satu sesepuh di kampung. Rumah sesepuh sering dikunjungi semua orang. Dan, ini menjadi salah satu kearifan Mbah Sukito dalam menjaga kebersamaan dan kerukunan.

Pak Muri, tokoh masyarakat Sidodadi yang ditemui awal Juni 2020, mengatakan perbedaan suku dan bahasa ada sejak wilayah kampung ini pertama kali ditempati, sekitar tahun 1983. Kala itu, orang dengan latar belakang suku, bahasa dan agama berbeda membaur dalam program transmigrasi. Sebagian besar orang Jawa, Sunda, dan Melayu lokal yang disisipkan.