Opini

Merawat Kerukunan di Daerah Pusaran Konflik

Merawat Kerukunan di Daerah Pusaran Konflik
Warga Sidodadi sedang "Rewang"

Dalam perkembangannya kemudian, penduduk trans berkurang karena sebagian tidak betah di lokasi. Ada yang pindah lokasi, ada yang balik kampung asal.

Seiring perjalanan waktu, keadaan mulai “membaik” dan stabil karena lahan dan pemasaran mulai bersahabat dengan warga trans. Lalu, penduduk bertambah satu dua karena pernikahan dengan orang luar komunitas, dan kelahiran. Hingga, pada hari ini (tahun 2020) di kampung Sidodadi ini ada orang Jawa, Sunda, Melayu, Madura, dan Dayak.

Merawat Kerukunan di Daerah Pusaran Konflik
Warga Sidodadi sedang “Rewang”

Bahasa Jawa kasar menjadi bahasa utama di sini. Tetapi, bahasa Melayu (Sambas) dan bahasa Indonesia juga mendapat tempat. Begitu pun dengan bahasa Sunda.
Di beberapa jalur, orang Jawa sangat biasa menggunakan dua atau tiga bahasa. Mereka bisa menukar penggunaan bahasa sesuai lawan bicara dan konteks. Ada penyesuaian.

Modal sosial, gotong royong dan kebersamaan tertanam kuat di tengah masyarakat. Budaya “Rewang” menjadi pengikat dan modal berharga. Setiap keluarga yang menyelenggarakan hajatan, pasti akan dibantu oleh warga.

Saya mendapatkan foto (seperti yang di atas) yang memperlihatkan kebersamaan warga saat rewang. Ada bagian membersihkan bahan, menyiapkan bumbu, memasak, dan mendekorasi tenda. Semuanya ambil bagian.