Kebersamaan warga pernah mendapat ujian berat saat kerusuhan 1997. Kala itu kerusuhan melibatkan dua kelompok suku. Di kampung ini, kala itu ada beberapa orang dari kalangan suku yang terlibat. Mereka yang berasal dari suku ini dilindungi oleh warga. Jiwanya ditolong, harta bendanya dijaga. Oleh sebab itu, tidak ada pertumpahan darah dan kerusakan harta benda dalam peristiwa besar di Kalbar di sini. Orang dari suku tersebut sebagian kemudian pindah, dan saat itu atau pada kesempatan lain dapat menjual harta benda mereka.
Ketika covid-19 melanda, warga Sidodadi dengan cepat mereaksinya. Begitu ada instruksi pemerintah soal social distancing dan pembatasan, pengurus desa membatasi orang keluar masuk dan kegiatan berkumpul. Percaya tak percaya, warga mematuhi perintah pengurus desa.
“Pokok e.. apa kata pemimpin, semua orang patuh,” kata Mae.
Pak De Yitno, dalam percakapan kami malam itu, awal Juni 2020 juga menegaskan hal yang sama. Mereka tidak menunggu ada orang di kampung yang sakit atau meninggal karena Covid-19, baru percaya. “Kita harus taat kepada pemimpin, pemimpin yang benar”.
