Warga di dusun hulu Sambas ini belajar banyak dari pengalaman hidup mereka di kampung terpencil di tanah baru. Pengalaman hidup itu diambil dari kerusuhan tahun 1997, yang bermula dari Sanggau Ledo, Bengkayang. Jarak Sanggau Ledo hanya 1,5 jam naik motor dari sini. Kelompok yang melakukan sweeping terhadap orang dari suku tertentu, sampai juga ke dusun ini.
Lalu, tahun 1999 kerusuhan Sambas terjadi. Sambas adalah ibu kota kabupaten Sambas. Tempat yang menjadi pusat bagi orang orang Sambas, termasuk Sidodadi ini. Suasana tegang dan mencekam sampai juga ke kampung ini untuk beberapa pekan. Konflik di sekitar mengepung mereka untuk sekian lama.
Dalam situasi tegang dan kacau, modal sosial terasa sangat membantu mendamaikan dan menenangkan hati. Kebersamaan membantu mereka mengatasi persoalan yang muncul. Ketaatan pada pemimpin mengomandoi mereka bergerak bersama dan kompak.
Loyalitas pada pemimpin dan kelompok terus dijaga dan dirawat. Sikap ini membuat mereka dapat mengedepankan kepentingan umum, tanpa melihat atau terbatas oleh identitas suku dan agama. (Ambaryani, Kontributor https://teraju.id/ )
