“Kok, lebaran ke sini. Memangnya ..?” Suami berbisik pada saya. Tetapi, Mae yang berjalan di depan mendengarnya.
“Lihatlah sendiri… Biar kamu tahu,” Mae tersenyum.
Sekarang saya paham maksud Mae. Lebaran ke rumah Mbah Sukito ini untuk memberikan informasi kepada menantunya.
“Mbah…” Mae memanggil.
“Yo…”
Terdengar sahutan di dalam rumah, di lantai bawah. Mbah Tumi, istri Mbah Sukito mempersilakan kami masuk. Lantai bawah, bagian dapur rumah ini memang lebih dekat ke tangga.
Kami naik ke rumah berlantai dua. Ada tangga luas seperti di gedung-gedung di kota, yang langsung terhubung dengan ruang tamu di lantai atas. Desain ini memang unik dan hanya milik paten Mbah Sukito di kampung ini.
Ruang tamu bercat biru. Di dinding terpasang foto keluarga. Ada salib besar dengan hiasan bunga. Sebuah tanda yang sangat jelas mengenai agama pemilik rumah. Di tengah ruangan ada meja rendah, di atasnya berbagai jenis kue dan minuman.
Mbah Sukito dan kemudian istrinya keluar dari lantai di pojok ruangan –tangga, menyambut kami dengan ramah. Kami bersalaman. Tidak ada ucapan “selamat lebaran” seperti lazimnya. Semua memang maklum.
Sudah menjadi tradisi di sini lebaran saling mengunjungi. Itu hal yang biasa dilakukan di mana-mana.
