Berita

Pontianak Siaga 1 Antara Aksi dan Penjarahan (Menyusul Peristiwa Bandara Sintang)

Pontianak Siaga 1 Antara Aksi dan Penjarahan (Menyusul Peristiwa Bandara Sintang)

Saya tidak heran dengan ungkapan Abui tersebut, karena di sosial media sudah keras sekali pembicaraan soal kecemasan akan gangguan keamanan. Tak pelak, Ketua Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat, Prof Dr Chairil Effendy pun sudah meminta agar seruan damai dan menjaga kondusifitas perdamaian yang berasal dari MABM diviralkan. Begitupula aliansi damai ANPRI (Aliansi untuk Perdamaian dan Transformasi) segera menelurkan sejumlah point yang berisi merekatkan kebersamaan dan kegotongroyongan sembari menepis isu-isu bersifat hoax/sampah.

Dua hari sebelumnya, Pendeta Daniel Alpius mengabari saya bahwa ada pertemuan para tokoh agama bersama Kapolda di Hotel Mercure. Dan Pendeta Daniel merasa was-was dengan situasi yang rentan pecah serta menimbulkan banyak korban di mana mereka tak mengerti apa-apa. Kalbar ini punya sejarah kelam dengan konflik etnis. Ribuan nyawa melayang. Ribuan rumah terbakar. Ratusan ribu mesti mengungsi.
Aktivis lingkungan, Demanhuri Gustira yang sedang berada di luar kota (pedalaman) mengaku kaget bahwa Kota Pontianak ditetapkan sebagai “Siaga 1”, ada apa? Begitu dia menulis di grup diskusi WhatsApp. Dia menyentil bahwa keretakan sosial sebenarnya bukanlah disebabkan karena faktor suku dan agama–sebagaimana kasus “salah paham” atas penolakan Tengku Zulkarnain di Bandara Soesilo–melainkan perebutan sumber-sumber ekonomi beralaskan sumber daya alam.