“Banyak lahan warga Melayu atau Dayak diserobot tanpa ganti rugi. Silahkan dicek di lapangan. Mereka semua adalah korban. (Melayu identik dengan Islam dan Dayak identik dengan Kristen). Diskusi pun berkembang ke kapitalisme ekonomi dan pelariannya adalah religi.
Di tempat lain, Wahyu Chundrik Pamungkas, mantan Ketua Remaja Masjid Mujahidin Pontianak merisaukan, kenapa Masjid Raya Mujahidin setelah renovasi besar-besaran dua tahun silam justru bertumbuh sebagai wadah aksi politik? “Masjid Raya Mujahidin menjadi tempat aksi politik tanpa baju,” ungkapnya.
Hal ini ditengara akibat banyaknya aksi dengan mengambil tempat di halaman masjid terbesar Kalbar itu khususnya setelah waktu shalat Jumat.
Kebetulan dua Jumat terakhir ini ada aksi. Aksi itu bernama Bela Ulama Bela Islam. Sebuah gerakan yang terakhir, Jumat (20/1/17) berwujud Aliansi Umat Islam Kalimantan Barat Bersatu berisi 16 ormas Islam.
