Sementara Kapolda Kalbar Brigjen Musyafak mengutip Tengku Zulkarnain di detik.com bahwa aksi penolakan terhadap dirinya tidak dipersoalkan. “Beliau tidak membuat laporan atas tindakan tidak menyenangkan dan telah memaafkan kesalahpahaman tersebut.” Apalagi setelah penolakan yang terjadi di Bandara Soesilo, Tengku Zulkarnain kembali hadir ke Sintang atas undangan Bupati dr Jarot Winarno dan beliau pun berdakwah di Negeri Senentang tersebut dengan aman. Situasi Sintang kondusif.
***
Sesuai dengan info yang beredar bahwa akan ada aksi demo besar-besaran berpusat di Masjid Raya Mujahidin selepas ibadah salat Jumat, 20/1/17 maka saya turut hadir untuk mendengarkan isi khutbah. Ternyata isi khutbah tidak menyinggung prihal ulama dan penistaan. Khatib menyampaikan pesan ubudiyah yang sangat personal kepada Allah SWT di mana setiap insan mesti ikhlas. Imam pun membacakan ayat Quran yang berisi bahwa orang-orang baik akan masuk ke syurga secara berombong-rombongan. QS Az Zumar.
Setelah zikir dan doa dan jamaah bubar, barulah terdengar orasi dari halaman masjid. Di sana massa berkumpul sekitar 200-500 orang. Namun lambat laun massa menjadi ramai hingga waktu Ashar. Seusai salat Ashar massa yang lebih dari 1000 orang itu bergerak menuju Polda Kalbar. Dari waktu menunggu tersebut orasi berisi ulasan hukum, sosiologi dan agama tentang penolakan yang terjadi di Bandara Soesilo, salawatan dan juga sesekali terdengar pekik Allahu Akbar.
***
Saya sempat meninggalkan keramaian aksi dan orasi di halaman Mujahidin dengan tujuan keliling kota seraya cek situasi. Ternyata apa yang disampaikan Abui si pedagang air galon Purnama itu benar. Sejumlah personil diplot di lokasi perdagangan, pecinan dan perkantoran. Mobil Dalmas siaga di berbagai sudut kota. Polisi dan tentara memanggul senapan. Wajar suasana mencekam. Oleh karena itu juga ada bos-bos yang menyewa “centeng” dalam menjaga bisnisnya agar tetap aman.
Pontianak Siaga 1 Antara Aksi dan Penjarahan (Menyusul Peristiwa Bandara Sintang)
