Padahal sebenarnya, sasaran utama pernyataan Hendropriyono mengenai Sultan Hamid II adalah upaya untuk menggagalkan pencalonan Anies Baswedan sebagai calon presiden 2024.
Mengapa?
Tak lama berselang heboh video penghinaan kepada Sultan Hamid II, kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan diputuskan. Hasil keputusan hanya ditetapkan selama satu tahun hukuman penjara kepada pelakunya.
Belum reda keterkejutan kita terhadap hasil putusan pengadilan untuk tindakan kekerasan bagi pemberantas korupsi di negara ini yang didasari oleh alasan ketidaksengajaan.
Tiba-tiba muncul kehebohan baru, seorang koruptor besar yang di-“wanted” oleh negara, Djoko Tjandra bisa lolos dari Indonesia dengan selamat tiada kekurangan satu serta lain hal. Lebih tidak masuk di akal pikiran, baik sangka kita, bos besar itu berhasil mengubah status kewarganegarannya melalui bantuan para oknum dari “Gank” Abdi Negara di Republik yang kita banggakan ini.
Apa kaitannya antara Hendropriyono dan ke-Arab-araban dari Sultan Hamid II, Anies Baswedan dan sepupunya Novel Baswedan serta para koruptor dan kasus kasus korupsi di negara ini? Baik, kita mulai menguraikannya.
Almarhum Munir yang diracuni di atas pesawat Garuda Air lines menuju Belanda adalah seorang pemberani yang membongkar kasus-kasus korupsi di negeri ini. Ingat, Munir adalah seorang putera Indonesia keturunan Arab.
